Seuntai
kisah idul adha
Seuntai
kisah hari ini akan menjadi cerita hari esok. Sejak subuh tadi, takbir, tahlil
dan tahmid bergemuruh menghampiri dinding-dinding hati setiap insan, memecah
gendang telinga bagi yang tuli, hingga dapat menikmati syahdu nya
kalimat-kalimat ALLAH,menyejuk kan.
Sejak
kemarin sekitar pukul dua siang, aku putuskan untuk merayakan idul adha bersama
keluarga yang sudah bersama sejak kecil, yup sejak kurang labih usia tiga
tahun,di desa tercinta talaga besar. Aku mulai membersihkan kamar kosanku,
sebelum ku tinggalkan, rasanya sedih juga meninggalkan istana mungil itu, tapi
sudahlah silaturahim itu lebih utama dari istana ini. Ehehehe.
Awalnya,
aku pengen sekali merasakan bagaimana perayaan hari besar tanpa keluarga
seperti mahasiswa lainnya, tapi entah perasaan sedih, rindu, menghujam hatiku,
tak sanggup untuk bertahan pada ke inginan itu. Suara azan, yang menghiasi
sekitar kosanku menggugah hati dan kerinduan yang membuncah, hingga di akhir
sujud shalat magrib itu mengalir air mata, air mata rindu.
Oke
guys, kembali pada paragraph dua. Saat keluar ke jalan cari ojek, tak seperti
biasanya suasan lingkungan kampus sangat sepi, sunyi, warung-warung tertutup,
yang tersisa hanya beberapa orang mahasiswa, tak perlu Tanya kemana penghuni
kos-kos yang berjejer banyak di lingkungan kampus, pasti mereka tak mau
meninggalkan moment indah ini,idul adha.
Ku
telusuri jalan, lorong salangga, yang berkisar 500 M dari jalan raya, tak ada
satupun tukang ojek, lampu bumi yang menyilaukan. Pukul 14.00. perasaan ingin
segera berjumpa dengan mereka membutku nekat melewati terik mentari yang
menyengat, jeket yang kukenakan berganti fungsi menjadi tutup kepala, dan
sediit menutup sebagian wajahku, yang tersisa hanya dua mata indahku, heheh.
Sudah
mulai haus, ku buang pandanganku lebih jauh, berharap menemukan tukang ojek,
tapi nihil.ya aku belajar untuk tidak mengeluh, yup aku mulaai bosa dengan kata
keluhan. Aku tetap berjalan, hingga sampailah depan jalan. Kendaraan yang tak
seramai biasanya, angkutan kota pun hanya satu dua buah yang melintasi jalan, begitu
pula kendaraan pribadi, wah kampus terasa tak berpnghni. Ternyata untuk satu
moment setiap insan tidak ingin melewatkannya bersama keluarga, karena benar
“keluarga tak ternilai harganya”. Melanjutkan jarak tempuh perjalanan,
Alhamdulillah ada dua tukang ojek di pangkalan. Aku kenal sekali tukang ojek
itu, yang selalu mengojek ku sewaktu masih di Anawula. Opz, perjalanan yang
begitu hati-hati. Tidak seperti tukang ijek yang aku ceritakan kemarin di
“story on last study”, stidaknya dia bias di andalkan bagi keselamatanku,
maklum besok makan daging kalau kecelkaan kan gk jadi makan daging
sapi,,hehehhe. Dua puluh rib rupiah,aku membayarnya, yah seharusnya lima beras
ribu, tapi biarlah ini bentuk kesyukuran ku sudah mengendarai motor dengan
hati-hati. J
Z:assalamualikum,,(ku
buka pintu perlahan sambil mengintip).
N:
walaikum salam
Z:
nene,, heheh,
Tak
ingin berlama-lama berdiri depan pintu,seperti biasanya nenek duduk di depan
televise. Aku segera menghampiri nenek lalu mencium punggung tangannya, seperti
biasanya. Yah, itu kebiasaan yang diajarkan kami oleh keluarga sahabat kecilku
ini, cium tangan orangtua, berkata sopan, ucapkan salam, dan masih banyak lagi,
yang hingga saat ini kami masih menerapkan dalam kehidupan sosial kami,
pembentukan karakter yang luar biasa.
Aku
akui, sifat dan karakter manjadi anak yang patuh, karena berada ditengah
keluarga sahabat kecilku ini. Bagiku mereka adalah saudaraku yang tidak mungkin
aku tinggalkan dalam kondisi apapun. Mungkin kalian akan mengira, kalau aku
bukanlah anak dari broken home karena
sifat dan tabiat ku yang jauh berbeda dengan anak hasil broken home lain nya. Ia,
tak dapat ku pungkiri, banyak teman-teman yang tidak percaya kalau aku hanya
anak yang orang tuanya bercerai. Secara fisik aku akui orangtuaku memang
bercerai, tapi dari dalam hati, aku tidak pernah merasa pereraian itu ada, aku
masih punya keluarga yang utuh, bahkan jauh lebih sempurna dari keluarga yang
sempurna, hehehe PD amat ya. Yup, aku harus PD dan bangga menjadi diriku, lalu
kenapa? Karena inilah keluargaku yang
sesungguhnya, yang mencintai tanpa mengharap imbalan, mereka menyayangiku,
memperhatikanku, membentuk pribadiku layaknya anak sendiri.
Oke
guys kembali pad percakapn diatas.
Z:
ne, tante mana (sambil mencari-cari di ruangan lainnya)
T:
ada apa cari saya? (muncul dari dapur)
Z:
hehe tante,,,sambil bergerak nyalamin tangannya)
T:
cium pipi saja,,tangan tante busuk, habis masak ikan
Ku ciumi pipi kiri dan kanan nya,
dengan sentuhann yang cukup mewakili perasaan rindu. Memang aku selalu
menganggap dia mamaku. Jadi terkadang jika aku merindukan sosok ibu, aku
pandangi beliau diam-diam, lebiih dalam. Selain sudah ku anggap ia keluarga
sahabat kecilku, juga beliau adalah sahabat ibuku sejak kecil, makanya aku
percaya kaliau kash sayangi ibu sama seperti kasih saying beliau.
N:
dina nae makan, ada ikan di kulkas nantikau baar saja.
Z:
ia ne,,,
T:
ia,,bakar saja,,ada di freezer…
Z:
iya tante,,,(uh terharu,keluarga ini begitu hangat selalunya akan disambut
seperti ini disguhkan hidagan, dan seakan berkata nikmatilah sebagaimana kamu
menikmati makanan di rumahmu, bisik hatiku).
Detak
jam terus berdentang, tak ingin terhenti, tak peduli momen apa yang sedang kamu
ciptakan, tak peduli seberapa cepat kamu mlewatkannyaa, tak menghiraukan
ucapanmu jika kesadaran menjammahmu kalau kamu telah menyia-nyiakan nya. Yah
jadi tak heran jika imam syafi’I berkata”gunakanlah waktu sebaik-baiknya, jika
tidak waktu akan menebasmu”, idiom yang cukup menggetarkan hati, bagi jiwa-jiwa
yang malas, menyia-nyiakan waktu. Sehingga betullah Allah katakana dalam
al-qur’n surat al-asr,, demi masa/ demi waktu.maka rugilah manusia.kecuali
orang yang beriman,yng saling menegur dalam shalat dan sabar. Wah Begitu sakrakah
waktu,mari kita piirkan.
Akhirnya
batuk kresek nenek membangunkan aku dari tidur nenyak ku. Pukul 3.12 dini hari.
Mungkin batuk nenek sudah mengganggu mata nya terlelap, sudah sering penyakit
itu menghantam paru-paru dan tenggorakan nenek, tapi pernahkah beliau mengeluh?
Rasanya tidak pernah, yang dia lakukan hayalah sabar dan ikhlas, iya yakin
inilah penyakit-penyakit lansia, beliau selalu melatih kesabaran itu, tidak
ingin mengeluh dengan selalu memetik butiran-butiran tasbih memuja dan
mengagungkan asma Allah.
Z:
nenek,,aku mok nya dimana?(sambil bangkit dari pembaringan)
N:
di dekat TV.
Aku
bergegas menuangkan air hangat ke mok gelas nenek. Mok stainlis berukuran
sekitar 300 mll.
Z:
ini bek,,
Nenek lalu minum, beberapa teguk.
Hamdalah batuk nya sesaat tak terdengar. Lalu beliau tertidur, lalau terlelap.
Aku sendiri memutuskan berdiri menghadap ALLAH dengan beberapa rakaat shalat
sunat lail. Hingga azan subuh berkumandang.
Aku
sempatkan mengguyur tubuhku dengan air, memakai sabun, gosok gigi, sebelum
melaksanakan dua rakaat shalat wajib itu. Agak terlambat menunaikannya,suara
tahmid, tahlil dan takbir sudah mulai di
kumandangkan dari dalam mesjid BTN TUNGGALA. Aku baru duduk tahyat akhir.
Seperti
yang aku tuliskan di atas, waktu berjalan bahkan sesekali ingin berlari
meninggklan insane yang tidak mau bergerak sesuai putaran waktu. Fajar
kemerahan, mulai mengintip bumi, memastikan kalau-kalau masih ada yang
tertidur. Se isi rumah sudahselesai
melaksaakan shalat subuh sebelum fajar dating.
Mama/tante
sudah mengisyaratkan kalau dianatara kami sudah harus mengantri untuk mandi.
Maklum si pedang pembunuh (waktu) menunjukan pukul 6.05 pagi.
Aku bersama saudara cantip ku asliati sudah
siap ke mesjid, andri,azwar,arif dan yang sedang di runggui si Mr.Asis. Adooh
si anak paling tua dianatara kami. Biasalah dia agak bandel. Hehehe
Takbir,
tahmid, dan tahlil mengiringi langkah kami menuju mesjid. Berbondong-bondong.
Dan Alhamdulillah, ada sedikit pujian yang kemudian memancarakan inner beauty kami ami berdua,,hehhe.
Tetangga menyapa kami saat melewati rumahnya?
Tngg:
wah cantik nya ini anak dua..
Aku tersenyum lebar, lumayan, berarti
ada cahaya-cahaya diwajah kami yang keluar, ditambah aroma-aroma mungkin mirip
aroma syurga, habis setiap melewati rombongan lainnya mereka menoleh melihat
kami, hehehe alai,lebay, padahal karena memang searah dan sejalan jadi tidak
mungkin kan tidak mau melirik. Hehehhe.
Mesjid
begitu ramai, serba putih dan wangi. Ibu-ibu, remaja, bahkan anak kecil ikut
meramaikan mesjid ini. Anak-anak ini takpeduli nanti, malah membuat keributan,
yang ia tahu kalau inilah hari kemenanganku, pantas dan wajib hukumnya aku
bergembira. Tak jarang ia bertingkah lucu didapan ibunya. Aku duduk di deretn
kedua akhir syaf, aku lihat ada anak keil bertingakh jail, memasukan kepalanya
ke jendea, lalu kemudian berusaha menggapai terali jendela atas, hehe dasar
anak kecil, di itknya hanya ada permainan, aku hanya tersnyum melihat tingkah
jailnya itu, syukurlah ia tak luput dari pengawasan ibunya, jadi semuanya aman
terkendali. Jadi tidak ada amarah dalam mesjid ini, yang ada suasana khidmat
menikmati senandung takbir, tahmid dan tahlil, jikalau ada yang kurang senang
dengan beberapa anak kecil ini katakana saja “sirik ya boss, karena waktu kecil
tak seceriah ini” ehhe, selesai perkara. Yup selesai atau malah membuat
runyam,hhehehe.
Pemandu
shalat mulai menjalankan amanahnya, membacakan siapa yang bertugs sebagai
imam,khatib. Mengajak segera jama’ah yang sedang diluar mesjid agar segera
merapat,dan mempercepat langkahnya jika masih dalam perjalanan. Beberapa menit
kemuadian, dua raka’at shalat id didirikan seluruh jama’ah berdiri,diawali takbir
dan di akhiri salam. Sampailah pada khutbah, oleh bapak aku lupa nama
lengkapnya, yang jelas beliau itu nanti setelah shalat wajib hukumya bertam ke
rumah om/tanteku.
Opz,,
seetes dua tetes lalu mengalir, hingga tak terasa ada isakan tangisan yang aku
hasilkan juga insan cantip yang disamping kiriku,,hehhe siapa lagi kalau bukan
asliati, opz ternyata ibu disebelah kananku juga ikutan nangis hanya tidak
sampai terisak, mengalir saja airya seperti air sungai yang bersih tanpa
kotoran,jadi bebas sumbatan. Hehhe
Meningkatkan
interksi social melalui idul adha tema judul yang diangkat pada hari ini, tepat
pukul 7.20 an menit. Pengemasan pesan yang cukup persuasive, jika aku yang
berkhtbah didepan akan terkesan sudah biasa dengan cerita itu, tapi entahlah
“kisah penyembelihan nabi Ismail alaihi sallam” yang sejak kecil diceritakan,
di ulang kembali di atas mimbar itu dengan takhnik-takhnik komunikasi yang
hampir sempurna, membawa aku pada satu kesimpulan besar bahwa:
Ikhlas,
sabar adalah modal utama menjalani hidup ini, menata iman ini, dan tentunya
untuk menggpai ridho illahi. Bagi seorang anak yang dikisahkan oleh nabi
Ismail, wajib hukumnya mematuhi perintah orang tua, jika itu sebuah perintah
untuk menunaikan perintah Allah Azza Wajallah., dengan penuh keyakinan,
keikhlasan dan rasa bangga ia merelakan nyawanya untuk ayahnya tidak lain
memenuhi perintah Illahi. Juga kebesaran hati ibunda Nabi Ismail sitti Hajar,
yang mengikhlaskan nyawa anak satu-satu nya itu. Sedang ayahnya adalah manusia
yang sangat demokratis, dikisahkan ketika mimpi pertama kali datang, ia tak
begitu yakin itu perintah Allah, namun mimpi yang sama terulang tiga kali, nabi
Ibrahim tidak semenah-menah mengambil keputusan untuk langsung menunaikan
perintah itu, namun ia mengedepankan
musywarah kepada Nabi Ismail, dan istrinya Sitti Hajar. Setelah
musywarah dan disepakati, barulah Ia berani mengambil tindakan yang cukup
menyaayat hati itu.
Nabi
Ibrahim: wahai istriku pakaikanlah pakaian yang paling bagus padanya
Air mataku semakin mengalir, menyimak kisah
itu. Perpisahan yang begitu mempesona, menyiapkan pakaian terbaik untuk
persembahannya pada Illahi.
Perjalanan
dimulai, Sitti Hajar mengantarkan anaknya ke bukit(..) penyembelihan. Ayahnya
sudah menunggu di sana. Iblis mulai menggoda kedua hamba Allah itu, Ismail pun
mulai kehausan, yang ada haya gurun, tak ada pohon atau rumah warga, air begitu
sulit ditemukan. Iblis mulai mengelurkan jurusnya, bisikan halus dan gangguan
lainnya, sehingga sitti hajar melempar batu sebanyak tiga kali pada iblis itu,
lalu iblis itu lari dan tida mengganggu kaduanya. Itulah, kenapa para jamaah
haji eajib menunaikan ibadah yang satu itu, lontar jumroh.
Sesaat
sebelum disembelih, nabi Ismail berpesan
Nabi
Ismail: ayah, baringkan aku dan kesampingkan badanku, agar tidak muncul rasa
sayngmu dan belas kasihan terhadapku saat engkau mau menyembelihku,,juga
pakaianmu tidak terkena percikan darahku
Airmataku tak terbendung,
membayangkan prosesi itu. Ya allah,,aku mulai berpikir jauh mengintropeksi
diri, sudah sejauh mana aku berkrban untuk Allah,dan keluargaku, atuaran yang
diterapkan Allah saja aku tidak patuhi,astghfirullah.
Ismail
kemudian berpesan lagi:
Nabi
Ismail: ayah, jika selesai jangan bawa bajuku pada ibu, dan laranglah ibu
bertemu dengan pemuda yang seusiaku.
Ya
allah begitu hangatnya kelurga ini, kasih saying tercermin dalam keluarga ayah
dari semua nabi ini.( pikirku).
Penyembelihan
dimulai, kishnya pisaunya menjadi tumpul, namun saat pisau itu dicobakan pada
batu, batu itu terbelah menjadi dua. Nabi Ibrahim berkata,wahai pisau mengapa
engkau mampu membela batu ini,sedangkan leher anak ku engaku tak mamu. Lalu,
terdengarlah suara yang dibiskan di telingga baginda nabi Ibrahim “ aku tidak
akan melakukan apa yang tidak Tuhan perintahku”. Namun nabi Ibrahim tetap
mengulang penyembelihan itu, saat pisau mulai di angkat nabi Ismail digantikan
denga se sor domba yang terbaring dan berhasil di sembelih olehnya.
Oke
guys, sekiranya kisah keluarga Nabi di atas dapat kita maknai da terapkan dalam
kehidupan kita. Dalam keluarga kita.
Setelah
pulang shalat id, bersalam-salaman, degan seisi rumah. Lalu tamu istimewa itu
hadir, tidak lain si pembawa khutbah idul id. Oh aku baru tahu ternyat beliau
paman dari keluarga ini.
Sedikit
mengulas dan menanyakan efektivitas cermah yang ia bawakan. Kami jawab sesuai
dengan apa yang kami rasakan, ciela jujur ceritanya nih, hehhee.
Namun,
tak lama ada sedikit cerita menggugah jiwa. Aduh mau anjut ketik tapi belakngku
sudah mulai sakit, tidak lurus lagi, heheh maaf ya pembaca.
Tapi
demi kalian aku akan melanjutkan nya. Kesimpulan saja ya:
Nasehat belaiu:
Bahwa
kakak adalah bendera bagi orangtua, mengapa merekalah contoh untuk
adik-adiknya. Mereka harapan pertama orangtuanya, anak bungsulah penerus
nasehat untuk adik-adiknya. Tunjukanlah kalau kamu bias menjadi anak kebanggaan
orangtuamu, agar terik mentari yag menyengat, menara-menara yang tinggi tempat
ia berdiri, menjadi penghangat dan istana indah saat kamu berhasil menjadi yang
terbaik dari teman-teman yang lain. Usia, bukan menjadi tolak ukur mencari
uang, karena dihatinya hanya ada nama anak-anaknya, anak yang elak menjadi
kebanggan keluarganya, anak-anak yang saling menopang untuk sebuah kesuksesan
di dunia dan akhirat. Ingat tunjukan kalau orangtuamu tidak sia-sia membanting
tulang, jadilah ISMAIL ntuk ZAMAN ini.
5 oktober 2014/11 zulhijah 1435
hijriah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar