Sabtu, 04 Oktober 2014

moment



Seuntai kisah idul adha

            Seuntai kisah hari ini akan menjadi cerita hari esok. Sejak subuh tadi, takbir, tahlil dan tahmid bergemuruh menghampiri dinding-dinding hati setiap insan, memecah gendang telinga bagi yang tuli, hingga dapat menikmati syahdu nya kalimat-kalimat ALLAH,menyejuk kan.
            Sejak kemarin sekitar pukul dua siang, aku putuskan untuk merayakan idul adha bersama keluarga yang sudah bersama sejak kecil, yup sejak kurang labih usia tiga tahun,di desa tercinta talaga besar. Aku mulai membersihkan kamar kosanku, sebelum ku tinggalkan, rasanya sedih juga meninggalkan istana mungil itu, tapi sudahlah silaturahim itu lebih utama dari istana ini. Ehehehe.
            Awalnya, aku pengen sekali merasakan bagaimana perayaan hari besar tanpa keluarga seperti mahasiswa lainnya, tapi entah perasaan sedih, rindu, menghujam hatiku, tak sanggup untuk bertahan pada ke inginan itu. Suara azan, yang menghiasi sekitar kosanku menggugah hati dan kerinduan yang membuncah, hingga di akhir sujud shalat magrib itu mengalir air mata, air mata rindu.
            Oke guys, kembali pada paragraph dua. Saat keluar ke jalan cari ojek, tak seperti biasanya suasan lingkungan kampus sangat sepi, sunyi, warung-warung tertutup, yang tersisa hanya beberapa orang mahasiswa, tak perlu Tanya kemana penghuni kos-kos yang berjejer banyak di lingkungan kampus, pasti mereka tak mau meninggalkan moment indah ini,idul adha.
            Ku telusuri jalan, lorong salangga, yang berkisar 500 M dari jalan raya, tak ada satupun tukang ojek, lampu bumi yang menyilaukan. Pukul 14.00. perasaan ingin segera berjumpa dengan mereka membutku nekat melewati terik mentari yang menyengat, jeket yang kukenakan berganti fungsi menjadi tutup kepala, dan sediit menutup sebagian wajahku, yang tersisa hanya dua mata indahku, heheh.
            Sudah mulai haus, ku buang pandanganku lebih jauh, berharap menemukan tukang ojek, tapi nihil.ya aku belajar untuk tidak mengeluh, yup aku mulaai bosa dengan kata keluhan. Aku tetap berjalan, hingga sampailah depan jalan. Kendaraan yang tak seramai biasanya, angkutan kota pun hanya satu dua buah yang melintasi jalan, begitu pula kendaraan pribadi, wah kampus terasa tak berpnghni. Ternyata untuk satu moment setiap insan tidak ingin melewatkannya bersama keluarga, karena benar “keluarga tak ternilai harganya”. Melanjutkan jarak tempuh perjalanan, Alhamdulillah ada dua tukang ojek di pangkalan. Aku kenal sekali tukang ojek itu, yang selalu mengojek ku sewaktu masih di Anawula. Opz, perjalanan yang begitu hati-hati. Tidak seperti tukang ijek yang aku ceritakan kemarin di “story on last study”, stidaknya dia bias di andalkan bagi keselamatanku, maklum besok makan daging kalau kecelkaan kan gk jadi makan daging sapi,,hehehhe. Dua puluh rib rupiah,aku membayarnya, yah seharusnya lima beras ribu, tapi biarlah ini bentuk kesyukuran ku sudah mengendarai motor dengan hati-hati. J
            Z:assalamualikum,,(ku buka pintu perlahan sambil mengintip).
            N: walaikum salam
            Z: nene,, heheh,

            Tak ingin berlama-lama berdiri depan pintu,seperti biasanya nenek duduk di depan televise. Aku segera menghampiri nenek lalu mencium punggung tangannya, seperti biasanya. Yah, itu kebiasaan yang diajarkan kami oleh keluarga sahabat kecilku ini, cium tangan orangtua, berkata sopan, ucapkan salam, dan masih banyak lagi, yang hingga saat ini kami masih menerapkan dalam kehidupan sosial kami, pembentukan karakter yang luar biasa.
            Aku akui, sifat dan karakter manjadi anak yang patuh, karena berada ditengah keluarga sahabat kecilku ini. Bagiku mereka adalah saudaraku yang tidak mungkin aku tinggalkan dalam kondisi apapun. Mungkin kalian akan mengira, kalau aku bukanlah anak dari broken home karena sifat dan tabiat ku yang jauh berbeda dengan anak hasil broken home  lain nya. Ia, tak dapat ku pungkiri, banyak teman-teman yang tidak percaya kalau aku hanya anak yang orang tuanya bercerai. Secara fisik aku akui orangtuaku memang bercerai, tapi dari dalam hati, aku tidak pernah merasa pereraian itu ada, aku masih punya keluarga yang utuh, bahkan jauh lebih sempurna dari keluarga yang sempurna, hehehe PD amat ya. Yup, aku harus PD dan bangga menjadi diriku, lalu kenapa? Karena  inilah keluargaku yang sesungguhnya, yang mencintai tanpa mengharap imbalan, mereka menyayangiku, memperhatikanku, membentuk pribadiku layaknya anak sendiri.
            Oke guys kembali pad percakapn diatas.
            Z: ne, tante mana (sambil mencari-cari di ruangan lainnya)
            T: ada apa cari saya? (muncul dari dapur)
            Z: hehe tante,,,sambil bergerak nyalamin tangannya)
            T: cium pipi saja,,tangan tante busuk, habis masak ikan
Ku ciumi pipi kiri dan kanan nya, dengan sentuhann yang cukup mewakili perasaan rindu. Memang aku selalu menganggap dia mamaku. Jadi terkadang jika aku merindukan sosok ibu, aku pandangi beliau diam-diam, lebiih dalam. Selain sudah ku anggap ia keluarga sahabat kecilku, juga beliau adalah sahabat ibuku sejak kecil, makanya aku percaya kaliau kash sayangi ibu sama seperti kasih saying beliau.
            N: dina nae makan, ada ikan di kulkas nantikau baar saja.
            Z: ia ne,,,
            T: ia,,bakar saja,,ada di freezer
            Z: iya tante,,,(uh terharu,keluarga ini begitu hangat selalunya akan disambut seperti ini disguhkan hidagan, dan seakan berkata nikmatilah sebagaimana kamu menikmati makanan di rumahmu, bisik hatiku).
            Detak jam terus berdentang, tak ingin terhenti, tak peduli momen apa yang sedang kamu ciptakan, tak peduli seberapa cepat kamu mlewatkannyaa, tak menghiraukan ucapanmu jika kesadaran menjammahmu kalau kamu telah menyia-nyiakan nya. Yah jadi tak heran jika imam syafi’I berkata”gunakanlah waktu sebaik-baiknya, jika tidak waktu akan menebasmu”, idiom yang cukup menggetarkan hati, bagi jiwa-jiwa yang malas, menyia-nyiakan waktu. Sehingga betullah Allah katakana dalam al-qur’n surat al-asr,, demi masa/ demi waktu.maka rugilah manusia.kecuali orang yang beriman,yng saling menegur dalam shalat dan sabar. Wah Begitu sakrakah waktu,mari kita piirkan.
            Akhirnya batuk kresek nenek membangunkan aku dari tidur nenyak ku. Pukul 3.12 dini hari. Mungkin batuk nenek sudah mengganggu mata nya terlelap, sudah sering penyakit itu menghantam paru-paru dan tenggorakan nenek, tapi pernahkah beliau mengeluh? Rasanya tidak pernah, yang dia lakukan hayalah sabar dan ikhlas, iya yakin inilah penyakit-penyakit lansia, beliau selalu melatih kesabaran itu, tidak ingin mengeluh dengan selalu memetik butiran-butiran tasbih memuja dan mengagungkan asma Allah.
            Z: nenek,,aku mok nya dimana?(sambil bangkit dari pembaringan)
            N: di dekat TV.
            Aku bergegas menuangkan air hangat ke mok gelas nenek. Mok stainlis berukuran sekitar 300 mll.
            Z: ini bek,,
Nenek lalu minum, beberapa teguk. Hamdalah batuk nya sesaat tak terdengar. Lalu beliau tertidur, lalau terlelap. Aku sendiri memutuskan berdiri menghadap ALLAH dengan beberapa rakaat shalat sunat lail. Hingga azan subuh berkumandang.
            Aku sempatkan mengguyur tubuhku dengan air, memakai sabun, gosok gigi, sebelum melaksanakan dua rakaat shalat wajib itu. Agak terlambat menunaikannya,suara tahmid, tahlil dan takbir sudah mulai  di kumandangkan dari dalam mesjid BTN TUNGGALA. Aku baru duduk tahyat akhir.
            Seperti yang aku tuliskan di atas, waktu berjalan bahkan sesekali ingin berlari meninggklan insane yang tidak mau bergerak sesuai putaran waktu. Fajar kemerahan, mulai mengintip bumi, memastikan kalau-kalau masih ada yang tertidur.  Se isi rumah sudahselesai melaksaakan shalat subuh sebelum fajar dating.
            Mama/tante sudah mengisyaratkan kalau dianatara kami sudah harus mengantri untuk mandi. Maklum si pedang pembunuh (waktu) menunjukan pukul 6.05 pagi.
             Aku bersama saudara cantip ku asliati sudah siap ke mesjid, andri,azwar,arif dan yang sedang di runggui si Mr.Asis. Adooh si anak paling tua dianatara kami. Biasalah dia agak bandel. Hehehe
            Takbir, tahmid, dan tahlil mengiringi langkah kami menuju mesjid. Berbondong-bondong. Dan Alhamdulillah, ada sedikit pujian yang kemudian memancarakan inner beauty kami ami berdua,,hehhe. Tetangga menyapa kami saat melewati rumahnya?
            Tngg: wah cantik  nya ini anak dua..
Aku tersenyum lebar, lumayan, berarti ada cahaya-cahaya diwajah kami yang keluar, ditambah aroma-aroma mungkin mirip aroma syurga, habis setiap melewati rombongan lainnya mereka menoleh melihat kami, hehehe alai,lebay, padahal karena memang searah dan sejalan jadi tidak mungkin kan tidak mau melirik. Hehehhe.
            Mesjid begitu ramai, serba putih dan wangi. Ibu-ibu, remaja, bahkan anak kecil ikut meramaikan mesjid ini. Anak-anak ini takpeduli nanti, malah membuat keributan, yang ia tahu kalau inilah hari kemenanganku, pantas dan wajib hukumnya aku bergembira. Tak jarang ia bertingkah lucu didapan ibunya. Aku duduk di deretn kedua akhir syaf, aku lihat ada anak keil bertingakh jail, memasukan kepalanya ke jendea, lalu kemudian berusaha menggapai terali jendela atas, hehe dasar anak kecil, di itknya hanya ada permainan, aku hanya tersnyum melihat tingkah jailnya itu, syukurlah ia tak luput dari pengawasan ibunya, jadi semuanya aman terkendali. Jadi tidak ada amarah dalam mesjid ini, yang ada suasana khidmat menikmati senandung takbir, tahmid dan tahlil, jikalau ada yang kurang senang dengan beberapa anak kecil ini katakana saja “sirik ya boss, karena waktu kecil tak seceriah ini” ehhe, selesai perkara. Yup selesai atau malah membuat runyam,hhehehe.
            Pemandu shalat mulai menjalankan amanahnya, membacakan siapa yang bertugs sebagai imam,khatib. Mengajak segera jama’ah yang sedang diluar mesjid agar segera merapat,dan mempercepat langkahnya jika masih dalam perjalanan. Beberapa menit kemuadian, dua raka’at shalat id didirikan seluruh jama’ah berdiri,diawali takbir dan di akhiri salam. Sampailah pada khutbah, oleh bapak aku lupa nama lengkapnya, yang jelas beliau itu nanti setelah shalat wajib hukumya bertam ke rumah om/tanteku.
            Opz,, seetes dua tetes lalu mengalir, hingga tak terasa ada isakan tangisan yang aku hasilkan juga insan cantip yang disamping kiriku,,hehhe siapa lagi kalau bukan asliati, opz ternyata ibu disebelah kananku juga ikutan nangis hanya tidak sampai terisak, mengalir saja airya seperti air sungai yang bersih tanpa kotoran,jadi bebas sumbatan. Hehhe
            Meningkatkan interksi social melalui idul adha tema judul yang diangkat pada hari ini, tepat pukul 7.20 an menit. Pengemasan pesan yang cukup persuasive, jika aku yang berkhtbah didepan akan terkesan sudah biasa dengan cerita itu, tapi entahlah “kisah penyembelihan nabi Ismail alaihi sallam” yang sejak kecil diceritakan, di ulang kembali di atas mimbar itu dengan takhnik-takhnik komunikasi yang hampir sempurna, membawa aku pada satu kesimpulan besar bahwa:
            Ikhlas, sabar adalah modal utama menjalani hidup ini, menata iman ini, dan tentunya untuk menggpai ridho illahi. Bagi seorang anak yang dikisahkan oleh nabi Ismail, wajib hukumnya mematuhi perintah orang tua, jika itu sebuah perintah untuk menunaikan perintah Allah Azza Wajallah., dengan penuh keyakinan, keikhlasan dan rasa bangga ia merelakan nyawanya untuk ayahnya tidak lain memenuhi perintah Illahi. Juga kebesaran hati ibunda Nabi Ismail sitti Hajar, yang mengikhlaskan nyawa anak satu-satu nya itu. Sedang ayahnya adalah manusia yang sangat demokratis, dikisahkan ketika mimpi pertama kali datang, ia tak begitu yakin itu perintah Allah, namun mimpi yang sama terulang tiga kali, nabi Ibrahim tidak semenah-menah mengambil keputusan untuk langsung menunaikan perintah itu, namun ia mengedepankan  musywarah kepada Nabi Ismail, dan istrinya Sitti Hajar. Setelah musywarah dan disepakati, barulah Ia berani mengambil tindakan yang cukup menyaayat hati itu.
            Nabi Ibrahim: wahai istriku pakaikanlah pakaian yang paling bagus padanya
 Air mataku semakin mengalir, menyimak kisah itu. Perpisahan yang begitu mempesona, menyiapkan pakaian terbaik untuk persembahannya pada Illahi.
            Perjalanan dimulai, Sitti Hajar mengantarkan anaknya ke bukit(..) penyembelihan. Ayahnya sudah menunggu di sana. Iblis mulai menggoda kedua hamba Allah itu, Ismail pun mulai kehausan, yang ada haya gurun, tak ada pohon atau rumah warga, air begitu sulit ditemukan. Iblis mulai mengelurkan jurusnya, bisikan halus dan gangguan lainnya, sehingga sitti hajar melempar batu sebanyak tiga kali pada iblis itu, lalu iblis itu lari dan tida mengganggu kaduanya. Itulah, kenapa para jamaah haji eajib menunaikan ibadah yang satu itu, lontar jumroh.
            Sesaat sebelum disembelih, nabi Ismail berpesan
            Nabi Ismail: ayah, baringkan aku dan kesampingkan badanku, agar tidak muncul rasa sayngmu dan belas kasihan terhadapku saat engkau mau menyembelihku,,juga pakaianmu tidak terkena percikan darahku

Airmataku tak terbendung, membayangkan prosesi itu. Ya allah,,aku mulai berpikir jauh mengintropeksi diri, sudah sejauh mana aku berkrban untuk Allah,dan keluargaku, atuaran yang diterapkan Allah saja aku tidak patuhi,astghfirullah.
            Ismail kemudian berpesan lagi:
            Nabi Ismail: ayah, jika selesai jangan bawa bajuku pada ibu, dan laranglah ibu bertemu dengan pemuda yang seusiaku.
            Ya allah begitu hangatnya kelurga ini, kasih saying tercermin dalam keluarga ayah dari semua nabi ini.( pikirku).
            Penyembelihan dimulai, kishnya pisaunya menjadi tumpul, namun saat pisau itu dicobakan pada batu, batu itu terbelah menjadi dua. Nabi Ibrahim berkata,wahai pisau mengapa engkau mampu membela batu ini,sedangkan leher anak ku engaku tak mamu. Lalu, terdengarlah suara yang dibiskan di telingga baginda nabi Ibrahim “ aku tidak akan melakukan apa yang tidak Tuhan perintahku”. Namun nabi Ibrahim tetap mengulang penyembelihan itu, saat pisau mulai di angkat nabi Ismail digantikan denga se sor domba yang terbaring dan berhasil di sembelih olehnya.
            Oke guys, sekiranya kisah keluarga Nabi di atas dapat kita maknai da terapkan dalam kehidupan kita. Dalam keluarga kita.
            Setelah pulang shalat id, bersalam-salaman, degan seisi rumah. Lalu tamu istimewa itu hadir, tidak lain si pembawa khutbah idul id. Oh aku baru tahu ternyat beliau paman dari keluarga ini.
            Sedikit mengulas dan menanyakan efektivitas cermah yang ia bawakan. Kami jawab sesuai dengan apa yang kami rasakan, ciela jujur ceritanya nih, hehhee.
            Namun, tak lama ada sedikit cerita menggugah jiwa. Aduh mau anjut ketik tapi belakngku sudah mulai sakit, tidak lurus lagi, heheh maaf ya pembaca.
            Tapi demi kalian aku akan melanjutkan nya. Kesimpulan saja ya:
Nasehat belaiu:
            Bahwa kakak adalah bendera bagi orangtua, mengapa merekalah contoh untuk adik-adiknya. Mereka harapan pertama orangtuanya, anak bungsulah penerus nasehat untuk adik-adiknya. Tunjukanlah kalau kamu bias menjadi anak kebanggaan orangtuamu, agar terik mentari yag menyengat, menara-menara yang tinggi tempat ia berdiri, menjadi penghangat dan istana indah saat kamu berhasil menjadi yang terbaik dari teman-teman yang lain. Usia, bukan menjadi tolak ukur mencari uang, karena dihatinya hanya ada nama anak-anaknya, anak yang elak menjadi kebanggan keluarganya, anak-anak yang saling menopang untuk sebuah kesuksesan di dunia dan akhirat. Ingat tunjukan kalau orangtuamu tidak sia-sia membanting tulang, jadilah ISMAIL ntuk ZAMAN ini.
5 oktober 2014/11 zulhijah 1435 hijriah

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar