Selasa, 18 November 2014

Manual Report, ala BBM. Benar Benar Menulis.



Selasa, 18 oktober 2014
Ceritanya “all abaout BBM”
            Fajar pagi ini tak se elok kemarin, embun pun tak sesejuk biasanya, semua menjadi aneh. Apa ini sebuah petanda? Tapi petanda apa ya? Tak ingin berlama-lama memandangi fajar yang sejak tadi sudah mengganggu pikiranku, segera aku angkat kaki dari depan jendela ruang tamu. Sudah hampir setengah jam aku berdiri di depan jendela itu, sebuah kebiasaan setiap harinya, setelah shalat subuh aku pasti mencari tempat untuk menyaksikan fajar kemerahan di ufuk timur, sambil berzikir dan mengagungkan kalimat allah. Luar biasa, carging rohani yang sedikit berbeda dengan orang lain.
            Sudah pukul 6.30 pagi. Aku segera menyiapkan secangkir teh untuk nenek. Sambil menunggu sepupuku selesai mandi, yang kebetulan hari ini ia kuliah pagi, segera berpikir untuk nebeng, yah hitung-hitung hemat lima ribu. Hehhe.
            O o. Tunggu dulu, tapi kok seperti ada yang aneh, ada suara-suara sumbang, mungkin ini klu dari fajar yang sayup-sayup menyapa bumi.
“Aduh, tadi sy pergi isben (isi bensin), mohamma itu antrian panjang sekali, ada mungkin 1 kilo jauhnya”, curhat seorang ibu, yang sudah kebiasaan pagi-pagi sudah bertamu di rumah. Biasalah ibu-ibu BTN. Hehe.
            “oh iya, tadi malam itu tepat pukul 12.00 presiden Jokowi sudah umumkan, keputusan untuk kasi naik BBM, sudahmi, mau diapa”, jawab tanteku yang selalu setia mendengarkan curhatan setiap ibu-ibu yang datang bertandang ke rumah untuk curhat. Hehehe.
            Weleh, weleh, weleh, kok pengumuman kebijakan kenaikan BBM nunggu jam 12.00 dulu sih, sudah lah pak, kalau mau naikin BBM jangan tunggu pergantian waktu dong, umumin aja, nda apa-apa kok kami akan terima, hiks hiks sambil elus-elus dada.
            *****************************************************
            Fajar sudah berganti dengan mentari pemilik cahaya terbesar, sumber segala kehidupan, ehehhe katanya. Sudah pukul 9.00 terlambat sejam dari jadwal kuliah. Tapi tidak masalah, bagi mahasiswa “sabar” menunggu dosen sudah kewajiban, bagaimanapun merekalah pemilik ilmu, dan kita pengolahnya, jadi harus sabar.
            Rambut terurai, dengan blus orens tosca dan celana kain menjadi pilihan busananya hari ini, ditambah pernik tali pinggang melilit pinggang sebagai penegas keanggunan dosen wanita yang sudah tidak terbilang muda. Heheh.
Opz tapi tunggu dulu,  usia boleh jadi tidak muda tapi jiwa yang selalu hidup/semangat, bahkan mengalahkan semangat kaum muda. Lihat saja cara jalan nya, cepat dan gesit, sedikit mengulas ucapan beliau semester lalu “ciri orang sukses bisa di lihat dari caranya ia berjalan”, o o o memang kalau dipikir-pikir betul juga sih. Wele weleh perlu dicontoh nih dosen seperti ini, perlu gali take off record nya sebagai referensi kaum muda.
            Kelas mulai merekam setiap kejadian dalam proses belajar hari ini. semua diam, seperti siap diterkam oleh mangsa tanpa perlawan, uiui ada rada-rada tegang setiap coretan wajah mahasiswa dalam ruangan ini.
            Seperti biasanya, sebelum masuk materi kuliah, otak dan jiwa kami di bersihkan dan di beri pasokan gizi baru, vitamin c,a,b,zat besi, dan protein. Entahlah apa kah semua mahasiswa dalam ruangan ini menerima atau tidak, semua bengong, diam, mata melotot tajam ke depan. Hanya Tuhan dan Diri sendiri yang tahu apa yang di pikirkan. Hehehe. Tapi tenang saja ada beberapa mahasiswa yang selalu merekam dan menerima gizi yang Cuma-Cuma itu, buktinya setelah perkuliahan ada beberapa mahasiswa yang menghampiri beliau untuk menambah kekurangan vitamin lainnya.
            Banyak kutipan sekaligus tamparan untuk jiwa-jiwa mudah yang belum mengetahui dan mengelola potensi yang dimiliki. Tidak sungkan-sungkan untuk membangkitkan jiwa-jiwa mudah yang katanya bagai “mayat hidup”, di sentil baru bergerak, dengan gaya dan kemasan bahasa yang “pas kena hati” kata Ahmad Dani. Weleh weleh memang bu harus di jatuhkan, ditampar tanpa tangan supaya bunyinya tidak terdengar, dan katakan “sakitnya tuh di sini, sambil nunjuk otak” hehehhe. Biarin, biar minta ampun dan bertobat dari segala ke khilafan ini.
            Mulailah melangkah, dari sekarang. Perlu di catat dan di camkan, untuk membangunkan kembali semangat menuntut ilmu, ini kutipan yang akan selalu memotifasi kita:
            “coba tanya sama diri kalian, apa yang sudah kalian lakukan selama dua setengah tahun tahun terakhir?”, ungkapnya dengan suara tegas, dan menggema, dan akan selalu mengiang-ngiang di hati dan pikiran ku. Hehehhe.
            Sudahlah, terimakasih bu, dalam benak ku “kalau semua dosen seperti ibu, entahlah,”, weleh weleh ternyata kita butuh dosen pengungkit semangat ya.
            Tapi rasanya ada bumbu yang kurang dalam kelas ini, apa ya? Mikir putar-putar otak.
            Oh oh,,iya iya,,aku dapat. Kenaikan BBM. Di luar sana hangat sekali gosipin pak Jokowi dan BBM nya. Inget itu kan gosip jadi kurang etis lah di bawah ke rana ilmiah. Hehhehe kan tidak apa-apa untuk kepentingan kita semua. Yelah gosip kan tetap gosip, lama-lama juga akan hilang, lagian matakuliah pagi ini kan “tekhnik menulis” bukan “politik dan opini publik”, hehehe cerita sisi si baik dan si buruk dalam diri.
            Kuliahpun berakhir dengan jiwa-jiwa baru, kembali menemukan fitrah manusia. Apakah siap untuk memulai? Kembali pada setiap pribadi masing-masing.
            ***************************************************
            Mushola menjadi tempat beristrahat untuk menunggu mata kuliah berikutnya. Alasan nya cukup sederhana, di sana aku akan berkumpul dengan orang-orang soleha, kreatif, dan inspiratif. Perbedaan suku dan latar belakang ekonomi dan kemampuan menggali ilmu, tidak menjadi perpecahan dan rasa ingin menang sendiri. Selalu menasehati kala jiwa rapuh lalai mengingat Allah, saat malas memanjakan tubuh untuk menuntut ilmu.
            Musola sudah di huni beberapa mahasiswa yang juga beristrahat. Membentuk beberapa kelompok, kelihatan nya sih mahasiswa baru, cerita dengan suara besar, ketawa-ketiwi yang tidak bisa di atur volume dan jenis ketawanya, weleh weleh ini musola bukan arena komedi. Hehehe.
            Ada yang menarik dari beberapa pembahasan satu kelompok di pojokan teras musola itu. Ya meski awalnya blak-blakan cketawanya. Lagi lagi BBM DAN JOKOWI, hehehe.
            “ iyo ee, mahalnya juga dan, masaa bensin 8.500? tutur wanita berambut panjang. Sebut saja si Q.
            “ha iyokah, bagaimanami itu, sewa Pete-Pete. Matimi mana jauhnya rumahku”. Balas salah satu temannya. Sebut saja si P.
            “aii,, saya mau belimi sepeda, hehehe” jawab si Q.
            “Ededeh pecah juga betis kalau dari rumahmu” jawab temannya berkerudung coklat.
            “Jokowi Jokowi” teriak seorang laki-laki dari luar musola tepatnya di kantin musola.
            Seketika cerita-wanita-wanita tadi terhenti, yang lain nya juga diam, sibuk menyimak dan menunggu lanjutan teriakan yang tidak di tahu siapa pelakunya. Suaranya seperti kesal, penuh beban. Weleh-weleh ada apa sih, teriak teriak juga pak Presiden tidak bisa dengar.
            Upz tidak hanya di musola, di tengah jalan saat tunggu sepupuku menjempu aku, satu kelompok laki-laki itu yang tidak jauh dari tempat aku berdiri sibuk bahasa kebijakan pak Presiden. Aduh aduh mabuk juga ya. Ehehhehe.
            Tidak hanya sampai di situ, ternyat di media sosia yang jadi tranding topik ya masih masalah BBM. Tapi ada yang lucu nih,  salah satu akun FB di balik opininya tentang BBM yuuk intip:
Ya Allah ya Robb..
hari ini tlh diumumkan bhw BBM tlh naik. maka secara otomatis bhw makanan pokok, ankot dll akan berkiblat dgn naikx harga BBM. Dan dikhawatirkan biaya pernikahan pun (kata umar, ajmain) akan naik. Haha
Hmm, ajmain dan umar ada2 aja, mana mungkin akan naik biaya pernikahan.! Kalowpun naik biaya nikah, kan ada 3 kartu tuh disiapin pak jokowi. Nah loe yg krng mampu utk membiayai nikah, bawain aja tuh krt INA Pintar, INA Sehat, dan INA Sejahtera. hahaha
(Sindir2 dulu yg milih Jokowi)
            **************************************************
The and


           
           

Sabtu, 08 November 2014

cerita "sentuhan kehidupan"

Sepenggal hati yang terlupakan kala senja datang, layaknya makhluk yang tidak pernah menanyakan kemana perginya mentari yang bersinar membasahi tubuhnya dengan peluh keringat,tadi siang. Atau itukah sifat lahiriah manusia, "pelupa", atau bahkan ia acuh untuk menyimpan sepotong cerita saat bersama, yang hanya sekejap,10 menit. Pertemuan ambigu.

Sudah tiga belas tahun ayah menghilang dari rumah. Sejak aku berusia 3 tahun, saat ingatanku belum mampu mengenali wajahnya.Tetapi kejadian tadi siang, tanpa harus bertanya pada Ibu, siapa laki-laki yang menatapku dalam-dalam tadi,  menyentuh, lalu meraih tangan kiriku membantu menyebrangi jalan. Bagaimana mungkin spontan hatiku bergetar, merasakan kerinduan yang dalam, saraf-sarafku hidup, berusaha mengenali genggaman tangan tadi, genggaman yang sangat familiar.
Ayah apakah itu jari-jari ayah? yang selalu menggenggam dengan cara berbeda, memasukan semua jari ke tanganku,kecuali ibu jari dan jari telunjukmu tetap menempal, sehingga hanya ada empat ruang yang terisi, karena ibu jariku kosong. Ayah aku ingat sekali itu, saat terahir ayah membingku keluar dari toko es krim terbesar di kota ini.

Ia membimbingku melewati hilir mudik transportasi yang begitu padat, tanpa mau menatapku.
"priip,priiip" ia meniup peluitnya sambil melambaikan tangan, tanda akan melewati jalan.
"papa" aku bergumam dalam hati.
Aku masih sibuk dengan perasaan penasaran. Kini aku yang menatapnya, berusaha mentransformasikan ingatan, nihil tak sedikitpun wajah ayah berbekas. Tertunduk sedih. 3 menit berlalu, bapak setengah baya itu, berhasil menolongku tanpa pamrih.
"Terimakasih pa",,ucapku
"ia sama-sama nak" jawabnya sambil melepas genggaman tangannya.
"wah, pasti anak bapa bangga punya ayah seperti bapak? tanyaku berusaha menggali informasi.
Ia hanya tersenyum.
"oh ya pak, maaf nih, kok bapak baik skali mau menolongku menyebrang?,
"iya nak, tadi aku lihat kamu takut-takut melangkah, habis maju mundur lagi,maju-mundur lagi,hehehhe" jelasnya
"oh gitu. Atau mungkin bapak teringat sama anaknya, bisa jadi anaknya pernah takut menyebrang seperti aku,hehhee", berusaha menghidupkan percakapan.
"hmm,, mungkin jg nak, anak ku pasti sudah se usia kamu", ucapnya.
aku mulai mendapat sedikit sinar. 

pip pip pip, terdengar bunyi klakson mobil mersedes itu, hendak meninggalkan area parkiran swalayan rakyat.

"sudah ya aku mau,,,,," bicaranya terpotong, mobil itu hampir menabrak motor lain.
" oke pa", jawabku dengan suara pelan.
Aku meninggalkan parkiran itu, nyaris lupa melambaikan tangan, lalu mengarakan"see you next time". Aku buru-buru naik angkutan umum (angkot). Membawa beberapa pertanyaan dan sekeping hati yang rindu, pertanyaan belum terselesaikan.

"ah sudahlah, mungkin dia bukan ayah, aku terlalu rindu jadi aku posesif", gerutuku memarahi ulah hatiku yang berlebihan.

Senja mulai datang,  pernak-pernik aktivitas mulai diatur kembali, untuk diambil pada hari-hari berikutnya. Aktivitasku sudah mulai padat. Tugas yang menumpuk dari sekolah, ekstrakulikuler, dan persiapan-persiapan menghadapi ujian akhir di tingkat pertama.
pertemuan tadi mulai mengganggu tidurku, namun tetap saja mulutku tertutup rapat, tidak ingin bertanya satu kata pun tentang ayah, aku takut ibu tersinggung, karena yang aku dengar dari tetangga, katanya ayah terpaksa pergi karena, malu pada ibu sebagai wanita karir, salah satu manager bank swasta, sedangkan ayah hanya tukang batu.
bersambuuung