Selasa, 18 oktober 2014
Ceritanya “all abaout
BBM”
Fajar
pagi ini tak se elok kemarin, embun pun tak sesejuk biasanya, semua menjadi
aneh. Apa ini sebuah petanda? Tapi petanda apa ya? Tak ingin berlama-lama
memandangi fajar yang sejak tadi sudah mengganggu pikiranku, segera aku angkat
kaki dari depan jendela ruang tamu. Sudah hampir setengah jam aku berdiri di
depan jendela itu, sebuah kebiasaan setiap harinya, setelah shalat subuh aku
pasti mencari tempat untuk menyaksikan fajar kemerahan di ufuk timur, sambil
berzikir dan mengagungkan kalimat allah. Luar biasa, carging rohani yang
sedikit berbeda dengan orang lain.
Sudah
pukul 6.30 pagi. Aku segera menyiapkan secangkir teh untuk nenek. Sambil
menunggu sepupuku selesai mandi, yang kebetulan hari ini ia kuliah pagi, segera
berpikir untuk nebeng, yah hitung-hitung hemat lima ribu. Hehhe.
O
o. Tunggu dulu, tapi kok seperti ada yang aneh, ada suara-suara sumbang,
mungkin ini klu dari fajar yang sayup-sayup menyapa bumi.
“Aduh, tadi sy
pergi isben (isi bensin), mohamma itu antrian panjang sekali, ada mungkin 1
kilo jauhnya”, curhat seorang ibu, yang sudah kebiasaan pagi-pagi sudah bertamu
di rumah. Biasalah ibu-ibu BTN. Hehe.
“oh
iya, tadi malam itu tepat pukul 12.00 presiden Jokowi sudah umumkan, keputusan
untuk kasi naik BBM, sudahmi, mau diapa”, jawab tanteku yang selalu setia
mendengarkan curhatan setiap ibu-ibu yang datang bertandang ke rumah untuk
curhat. Hehehe.
Weleh,
weleh, weleh, kok pengumuman kebijakan kenaikan BBM nunggu jam 12.00 dulu sih,
sudah lah pak, kalau mau naikin BBM jangan tunggu pergantian waktu dong, umumin
aja, nda apa-apa kok kami akan terima, hiks hiks sambil elus-elus dada.
*****************************************************
Fajar
sudah berganti dengan mentari pemilik cahaya terbesar, sumber segala kehidupan,
ehehhe katanya. Sudah pukul 9.00 terlambat sejam dari jadwal kuliah. Tapi tidak
masalah, bagi mahasiswa “sabar” menunggu dosen sudah kewajiban, bagaimanapun
merekalah pemilik ilmu, dan kita pengolahnya, jadi harus sabar.
Rambut
terurai, dengan blus orens tosca dan celana kain menjadi pilihan busananya hari
ini, ditambah pernik tali pinggang melilit pinggang sebagai penegas keanggunan
dosen wanita yang sudah tidak terbilang muda. Heheh.
Opz tapi tunggu dulu, usia boleh jadi tidak muda tapi jiwa yang
selalu hidup/semangat, bahkan mengalahkan semangat kaum muda. Lihat saja cara
jalan nya, cepat dan gesit, sedikit mengulas ucapan beliau semester lalu “ciri
orang sukses bisa di lihat dari caranya ia berjalan”, o o o memang kalau
dipikir-pikir betul juga sih. Wele weleh perlu dicontoh nih dosen seperti ini,
perlu gali take off record nya sebagai referensi kaum muda.
Kelas
mulai merekam setiap kejadian dalam proses belajar hari ini. semua diam,
seperti siap diterkam oleh mangsa tanpa perlawan, uiui ada rada-rada tegang
setiap coretan wajah mahasiswa dalam ruangan ini.
Seperti
biasanya, sebelum masuk materi kuliah, otak dan jiwa kami di bersihkan dan di
beri pasokan gizi baru, vitamin c,a,b,zat besi, dan protein. Entahlah apa kah
semua mahasiswa dalam ruangan ini menerima atau tidak, semua bengong, diam,
mata melotot tajam ke depan. Hanya Tuhan dan Diri sendiri yang tahu apa yang di
pikirkan. Hehehe. Tapi tenang saja ada beberapa mahasiswa yang selalu merekam
dan menerima gizi yang Cuma-Cuma itu, buktinya setelah perkuliahan ada beberapa
mahasiswa yang menghampiri beliau untuk menambah kekurangan vitamin lainnya.
Banyak
kutipan sekaligus tamparan untuk jiwa-jiwa mudah yang belum mengetahui dan
mengelola potensi yang dimiliki. Tidak sungkan-sungkan untuk membangkitkan
jiwa-jiwa mudah yang katanya bagai “mayat hidup”, di sentil baru bergerak,
dengan gaya dan kemasan bahasa yang “pas kena hati” kata Ahmad Dani. Weleh
weleh memang bu harus di jatuhkan, ditampar tanpa tangan supaya bunyinya tidak
terdengar, dan katakan “sakitnya tuh di sini, sambil nunjuk otak” hehehhe.
Biarin, biar minta ampun dan bertobat dari segala ke khilafan ini.
Mulailah
melangkah, dari sekarang. Perlu di catat dan di camkan, untuk membangunkan
kembali semangat menuntut ilmu, ini kutipan yang akan selalu memotifasi kita:
“coba
tanya sama diri kalian, apa yang sudah kalian lakukan selama dua setengah tahun
tahun terakhir?”, ungkapnya dengan suara tegas, dan menggema, dan akan selalu
mengiang-ngiang di hati dan pikiran ku. Hehehhe.
Sudahlah,
terimakasih bu, dalam benak ku “kalau semua dosen seperti ibu, entahlah,”,
weleh weleh ternyata kita butuh dosen pengungkit semangat ya.
Tapi
rasanya ada bumbu yang kurang dalam kelas ini, apa ya? Mikir putar-putar otak.
Oh
oh,,iya iya,,aku dapat. Kenaikan BBM. Di luar sana hangat sekali gosipin pak
Jokowi dan BBM nya. Inget itu kan gosip jadi kurang etis lah di bawah ke rana
ilmiah. Hehhehe kan tidak apa-apa untuk kepentingan kita semua. Yelah gosip kan
tetap gosip, lama-lama juga akan hilang, lagian matakuliah pagi ini kan
“tekhnik menulis” bukan “politik dan opini publik”, hehehe cerita sisi si baik
dan si buruk dalam diri.
Kuliahpun
berakhir dengan jiwa-jiwa baru, kembali menemukan fitrah manusia. Apakah siap untuk
memulai? Kembali pada setiap pribadi masing-masing.
***************************************************
Mushola
menjadi tempat beristrahat untuk menunggu mata kuliah berikutnya. Alasan nya
cukup sederhana, di sana aku akan berkumpul dengan orang-orang soleha, kreatif,
dan inspiratif. Perbedaan suku dan latar belakang ekonomi dan kemampuan
menggali ilmu, tidak menjadi perpecahan dan rasa ingin menang sendiri. Selalu
menasehati kala jiwa rapuh lalai mengingat Allah, saat malas memanjakan tubuh
untuk menuntut ilmu.
Musola
sudah di huni beberapa mahasiswa yang juga beristrahat. Membentuk beberapa
kelompok, kelihatan nya sih mahasiswa baru, cerita dengan suara besar,
ketawa-ketiwi yang tidak bisa di atur volume dan jenis ketawanya, weleh weleh
ini musola bukan arena komedi. Hehehe.
Ada
yang menarik dari beberapa pembahasan satu kelompok di pojokan teras musola
itu. Ya meski awalnya blak-blakan cketawanya. Lagi lagi BBM DAN JOKOWI, hehehe.
“
iyo ee, mahalnya juga dan, masaa bensin 8.500? tutur wanita berambut panjang.
Sebut saja si Q.
“ha
iyokah, bagaimanami itu, sewa Pete-Pete. Matimi mana jauhnya rumahku”. Balas
salah satu temannya. Sebut saja si P.
“aii,,
saya mau belimi sepeda, hehehe” jawab si Q.
“Ededeh
pecah juga betis kalau dari rumahmu” jawab temannya berkerudung coklat.
“Jokowi
Jokowi” teriak seorang laki-laki dari luar musola tepatnya di kantin musola.
Seketika
cerita-wanita-wanita tadi terhenti, yang lain nya juga diam, sibuk menyimak dan
menunggu lanjutan teriakan yang tidak di tahu siapa pelakunya. Suaranya seperti
kesal, penuh beban. Weleh-weleh ada apa sih, teriak teriak juga pak Presiden
tidak bisa dengar.
Upz
tidak hanya di musola, di tengah jalan saat tunggu sepupuku menjempu aku, satu
kelompok laki-laki itu yang tidak jauh dari tempat aku berdiri sibuk bahasa
kebijakan pak Presiden. Aduh aduh mabuk juga ya. Ehehhehe.
Tidak
hanya sampai di situ, ternyat di media sosia yang jadi tranding topik ya masih
masalah BBM. Tapi ada yang lucu nih,
salah satu akun FB di balik opininya tentang BBM yuuk intip:
Ya Allah ya Robb..
hari ini tlh diumumkan bhw BBM tlh naik. maka secara otomatis bhw makanan pokok, ankot dll akan berkiblat dgn naikx harga BBM. Dan dikhawatirkan biaya pernikahan pun (kata umar, ajmain) akan naik. Haha
hari ini tlh diumumkan bhw BBM tlh naik. maka secara otomatis bhw makanan pokok, ankot dll akan berkiblat dgn naikx harga BBM. Dan dikhawatirkan biaya pernikahan pun (kata umar, ajmain) akan naik. Haha
Hmm, ajmain dan umar ada2 aja, mana mungkin akan naik biaya pernikahan.!
Kalowpun naik biaya nikah, kan ada 3 kartu tuh disiapin pak jokowi. Nah loe yg
krng mampu utk membiayai nikah, bawain aja tuh krt INA Pintar, INA Sehat, dan
INA Sejahtera. hahaha
(Sindir2 dulu yg milih Jokowi)
**************************************************
The and
Tidak ada komentar:
Posting Komentar