Sabtu, 08 November 2014

cerita "sentuhan kehidupan"

Sepenggal hati yang terlupakan kala senja datang, layaknya makhluk yang tidak pernah menanyakan kemana perginya mentari yang bersinar membasahi tubuhnya dengan peluh keringat,tadi siang. Atau itukah sifat lahiriah manusia, "pelupa", atau bahkan ia acuh untuk menyimpan sepotong cerita saat bersama, yang hanya sekejap,10 menit. Pertemuan ambigu.

Sudah tiga belas tahun ayah menghilang dari rumah. Sejak aku berusia 3 tahun, saat ingatanku belum mampu mengenali wajahnya.Tetapi kejadian tadi siang, tanpa harus bertanya pada Ibu, siapa laki-laki yang menatapku dalam-dalam tadi,  menyentuh, lalu meraih tangan kiriku membantu menyebrangi jalan. Bagaimana mungkin spontan hatiku bergetar, merasakan kerinduan yang dalam, saraf-sarafku hidup, berusaha mengenali genggaman tangan tadi, genggaman yang sangat familiar.
Ayah apakah itu jari-jari ayah? yang selalu menggenggam dengan cara berbeda, memasukan semua jari ke tanganku,kecuali ibu jari dan jari telunjukmu tetap menempal, sehingga hanya ada empat ruang yang terisi, karena ibu jariku kosong. Ayah aku ingat sekali itu, saat terahir ayah membingku keluar dari toko es krim terbesar di kota ini.

Ia membimbingku melewati hilir mudik transportasi yang begitu padat, tanpa mau menatapku.
"priip,priiip" ia meniup peluitnya sambil melambaikan tangan, tanda akan melewati jalan.
"papa" aku bergumam dalam hati.
Aku masih sibuk dengan perasaan penasaran. Kini aku yang menatapnya, berusaha mentransformasikan ingatan, nihil tak sedikitpun wajah ayah berbekas. Tertunduk sedih. 3 menit berlalu, bapak setengah baya itu, berhasil menolongku tanpa pamrih.
"Terimakasih pa",,ucapku
"ia sama-sama nak" jawabnya sambil melepas genggaman tangannya.
"wah, pasti anak bapa bangga punya ayah seperti bapak? tanyaku berusaha menggali informasi.
Ia hanya tersenyum.
"oh ya pak, maaf nih, kok bapak baik skali mau menolongku menyebrang?,
"iya nak, tadi aku lihat kamu takut-takut melangkah, habis maju mundur lagi,maju-mundur lagi,hehehhe" jelasnya
"oh gitu. Atau mungkin bapak teringat sama anaknya, bisa jadi anaknya pernah takut menyebrang seperti aku,hehhee", berusaha menghidupkan percakapan.
"hmm,, mungkin jg nak, anak ku pasti sudah se usia kamu", ucapnya.
aku mulai mendapat sedikit sinar. 

pip pip pip, terdengar bunyi klakson mobil mersedes itu, hendak meninggalkan area parkiran swalayan rakyat.

"sudah ya aku mau,,,,," bicaranya terpotong, mobil itu hampir menabrak motor lain.
" oke pa", jawabku dengan suara pelan.
Aku meninggalkan parkiran itu, nyaris lupa melambaikan tangan, lalu mengarakan"see you next time". Aku buru-buru naik angkutan umum (angkot). Membawa beberapa pertanyaan dan sekeping hati yang rindu, pertanyaan belum terselesaikan.

"ah sudahlah, mungkin dia bukan ayah, aku terlalu rindu jadi aku posesif", gerutuku memarahi ulah hatiku yang berlebihan.

Senja mulai datang,  pernak-pernik aktivitas mulai diatur kembali, untuk diambil pada hari-hari berikutnya. Aktivitasku sudah mulai padat. Tugas yang menumpuk dari sekolah, ekstrakulikuler, dan persiapan-persiapan menghadapi ujian akhir di tingkat pertama.
pertemuan tadi mulai mengganggu tidurku, namun tetap saja mulutku tertutup rapat, tidak ingin bertanya satu kata pun tentang ayah, aku takut ibu tersinggung, karena yang aku dengar dari tetangga, katanya ayah terpaksa pergi karena, malu pada ibu sebagai wanita karir, salah satu manager bank swasta, sedangkan ayah hanya tukang batu.
bersambuuung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar